Selamat Datang di Blog CSR Kami

Kamis, 08 Mei 2008

IFAD Prihatin Pola bertani Tebas Bakar merusak Lingkungan

Kefamenanu, NTT Online - Sebagian besar Penduduk Indonesia menggantungkan harapan hidupnya bercocok tanam pada lahan pertanian, tak heran bila ada kecenderungan untuk petani membuka lagi lahan pertanian yang baru dengan menggunakan pola tebas bakar dan lahan berpindah-pindah guna mencari hasil panen yang lebih maksimal dengan asumsi bahwa lahan yang baru ditebas masih terdapat mineral dan humus tanah yang dapat menyuburkan tanaman pada musim tanam tahun pertama.
Namun sebenarnya sistim yang digunakan petani malah sangat merugikan ekosistim yang ada. Untuk mengantisipasi hal itu, maka salah satu Lembaga Internasional IFAD (International Fund for Agricultural Development) lewat PIDRA (Participatory Integrited Development in Rainted Areas) yang merupakan sebuah program kerja dari IFAD khususnya menbidangi pembenahan sistim tebas bakar atau lahan berpindah-pindah untuk kembali pada pola bertani pada lahan menetap, pada pekan lalu telah mengunjungi dua desa binaannya di Desa Fatusene dan Desa Sunsea Kabupaten Timor tenga Utara (TTU) Propinsi Nusa tenggara Timur (NTT) guna melihat dari dekat tentang hasil yang sudah di capai selama ini.
Dari hasil kunjugan IFAD pada dua desa sasaran PIDRA dari 17 desa binaan PIDRA terlihat jelas bahwa masyarakat sangat antusias menerima kunjungan Donatur yang datang saat itu karena mereka merasakan bahwa progran ini sangat menbantu dan membawa perubahan terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan ekologi pada masyarakat desa binaan tersebut.
Salah seorang warga masyarakat di desa Sunsea Ny. Elisabet obe mengakui dirinya sangat senang karena kehidupan ekonomi keluarganya sudah mulai membaik. ”saya sangat berterimakasih kepada tim donatur dari Negara India ini karena berkat bantuannya kami telah berhasil lewat kegiatan pertanian yang di berikan oleh para penyuluh lapangan Pertanian selama ini dan kami minta kalau bisa program ini di perpanjang lagi”. Pinta Ny. Elisabet

Sementara Manager PIDRA TTU, Ir. Benyamin Ulu Meak ketika ditemui di ruang kerjanya senin (3/12) terkait kunjungan Donatur Program ini asal Negara India mengakui kunjungan mereka ingin melihat dari dekat hasil pelaksanaan Program PIDRA selama ini. ”Donatur yang mendanai langsung program ini selama dua Fase ingin melihat dari dekat tentang hasil pelaksanaan seluruh kegiatan di sini (Kabupaten Timor Tengah Utara,Red) sejak bulan Januari hingga-September tahun 2007 pada fase kedua tahun ketiga, terutama indikator keberhasilan Performance Program, realisasi anggaran dan indikator ketaatan terhadap loand agreiment/special loand agreiment dan juga mengetahui bagaimana tindak lanjut dari periode yang lalu”. jelas Ulu Meak.

Ketika disinggung wartawan terkait kesinambungan prorgam ini, Ulu Meak mengatakan belum ada kesepakatan yang pasti namun kita tunggu saja perubahan dari hasil reviu nanti. Informasi yang dihimpun NTT Online bahwa Di Indonesia Ada tiga Propinsi, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang tersentuh oleh program ini sementara di Propinsi Nusa Tenggara Timur ada 5 (lima) Kabupaten diantaranya Kabupten Sumba Barat, Sumba Timur, Alor, Timor Tengah selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara Anggota Tim IFAD (International Fund for Agricultural Development) dan PIDRA (Participatory Integrited Development in Rainted Areas) yang mengunjungi dua Desa Binaan PIDRA pada Kabupaten Timor Tengah Utara diantaranya Mr. All Fernandez (India), Oukvathirith (Kamboja), Mariam Rikhana, Ir.Rimun Wibowo,MS. (Koordinator LSM Nasional), Ir Djadi Purnomo,MM. (Koordinator PIDRA Nasional), Ir.Dody Tibuludji, Koordinator PIDRA-NTT, Ny. Sovi Koordinator Gender.

1 komentar:

Edgar R. Tibuludji mengatakan...

Pola tebas bakar dan ladang berpindah merupakan kondisi petani subsisten di NTT. Hal ini dapat terjadi karena keterbatasan tenaga kerja dan modal. Namun mereka harus tetap hidup untuk itu mereka perlu makan. Itulah sebabnya mereka terus melakukan pola ini hanya untuk satu kata HIDUP. Melalui upaya peningkatan kapasitas individu dan kelembagaan masyarakat dengan pendampingan yang intensif, PIDRA NTT (TTS, TTU, Alor, Sumba Timur dan Sumba Barat) para petani sangat miskin yang tinggal di daerah sangat terpencil melalui Kelompok Mandiri yang mereka bangun setelah 4 tahun (2001-2004)mereka menyatakan (mengaku) mereka sudah tidak lagi melakukan tebas bakar dan ladang berpindah karena mereka sekarang mereka telah lahan menetap dimana pada lahan tersebut, mereka telah membuat teras, mereka telah tanam tanaman2 produktif, pakan ternak dll. Untuk inovasi teknis antara lain mereka menerapkan olah lubang dan olah jalur sedangkan untuk menangkap air (air merupakan faktor pembatas utama di lahan kering) mereka mengembangkan embung plastik dan yang paling terakhir mereka telah mampu mengembangkan Biogas. Masyarakat miskin tidak lemah mereka yang hanya butuh pendampingan. Sekarang mereka telah lebih sejahtera lagi. Tantangan baru bagi mereka sekarang ini adalah persaingan usaha. Mereka yang dulunya hanya berjualan skala kecil di desa, sekarang mereka berusaha skala menengah mencoba menembus pasar kabupaten dan pasar2 besar lainnya. Untuk itu mereka masih perlu pendampingan. Kami tunggu kontribusi Anda semua. Terima kasih. (Dodi T)

Template by : kendhin x-template.blogspot.com